Minggu, 07 Oktober 2012

Romantika Berbeda Bahasa

Hai .. hai ... Sahabat semua.. :)

Pagi ini,  sepeninggal anak dan suami ke tempat tujuannya masing-masing, saya sudah bisa leluasa nangkring di depan PC di ruang dapurku. Pastinya ada beberapa pekerjaan yang harus saya selesaikan untuk batas waktu hingga siang nanti. Melantai, mencuci dan bebenah sudah sedari pagi beres. Beginilah kalau anak-anak sudah besar, emaknya tidak begitu repot beberes dari sudut ke sudut. 

Sebelum saya menyentuh pekerjaan yang sebagian sudah saya cicil di malam tadi sembari menunggu suami pulang, saya ingin berbagi kisah ringan yang -semoga- bisa menyegarkan di awal hari sahabat sekalian.

Semalam, ternyata suami pulang agak awal. Belum sampai jam 11 malam, suara kendaraannya menderu di depan gerbang. Oh, .. tumben sudah pulang, batin saya. Saya syukuri kepulangannya dan kami pun bisa lebih leluasa berbincang banyak hal sembari mencari kantuk. Biasanya kami akan berkisah, timpal menimpali apa-apa yang sudah kami alami hari itu. Saya bercerita tentang anak-anak, tentang aktifitas seharian dan tentu saja dengan segala suka dukanya. 

Hingga ketika kisah saya sampai pada salah seorang anak yang -alhamdulillah- diberikan kesempatan untuk mengukir prestasi di sekolahnya, sampailah suami pada komentarnya yang membuat hati saya berdesir.

"Abi itu benar-benar GETUN kalau melihat Hani. Coba kalau Ummi supportnya lebih lagi, mungkin masih ada peluang berkembang lebih bagus."

"Duh, ... punteun atuh, Bi. Ummi harus gimana lagi ?" tanya saya dengan hati-hati.
"Ah,.. da Ummi mah pasti lebih tau." jawabnya.

Mungkin suami saya melihat perubahan di wajah saya. Bagaimanapun, saya merasa sudah maksimal membimbing anak. Tapi, kenapa suami harus bilang GETUN? Jika pun ada masukan, biasanya suami menyampaikan dengan kata-kata yang lebih enak. 

Oh, ya ...
Sebelumnya perlu diketahui. Saya terlahir sebagai orang Jawa. Jadi, ketika mendengar kata GETUN, maka dalam persepsi saya adalah sebuah ungkapan penyesalan. Berbeda dengan suami yang bersuku Madura. Tapi, mengingat suami sudah lama hidup di Jawa Timur, maka saya pikir suami pun punya persepsi yang sama ketika mengucapkan kata GETUN. 

Olala ...
Suami tergelak-gelak menyaksikan perubahan suasana hati  yang terpancar lewat mimik wajah saya. Rupanya ia menyadari sesuatu. Tentu saya dibuatnya heran. Ada apa?

Rupanya GETUN yang ia maksudkan adalah kosa kata bahasa Madura yang berarti 'Kagum'.,'Heran', atau 'Takjub'. Bukan GETUN dalam arti bahasa Jawa yang bermakna menyesal. 

Maka saya pun ikut geli menyadari ini. Dan saya memahami, karena salah paham seperti ini sering terjadi. Baik antara saya dengan suami, ipar-ipar, mertua bahkan dengan keluarga besar suami. Hal yang sama terjadi pada suami ketika berinteraksi dengan keluarga saya.

Pernah saya dongkol banget pada asisten yang dikirim mertua untuk membantu saya ketika anak sulung saya baru belajar lari, sementara adiknya masih bayi merah. Saya masih di Surabaya, belum pindah ke Bandung.  Di tengah kesibukan saya menyusui dan menahan nyeri sehabis melahirkan, sulung saya berlari ke jalanan. Di gerbang tengah berdiri asisten kiriman ibu mertua dari Madura yang notabene hanya mengerti bahasa Madura. Spontan saya berteriak : "Mbaakkk,... tolong CEKEL si Mas. CEKEL !!! .. jangan biarkan lari". Maklum, Jawa totok. Ketika panik yang keluar dari alam bawah sadar ya, .. bahasa ibu. CEKEL, maksud saya adalah 'pegang', 'tangkap'. Jadi anak saya tidak keburu kabur. Begitu maksud saya.

Aduh .. aduh ..
Sang asisten pucat pasi mendengar instruksi saya. Saya dongkol banget, akhirnya saya tinggalkan bayi yang menangis dan mengejar anak sayayang sudah melintasi jalan raya perumahan. Mobil yang berseliweran makin membuat saya panik. Alhamdulillah, si sulung selamat. Tapi gondok saya pada asisten masih tersisa hingga ibu mertua yang mendapat pengaduan dari asisten, tergelak-gelak sampai keluar airmata.

Rupanya asisten saya mengadu ke ibu mertua perihal instruksi saya padanya. Ia ketakutan setengah mati, makanya wajahnya juga pucat pasi.

Rupanya ketika saya menyuruhnya dengan kata CEKEL, maka ia mengartikannya sebagai perintah untuk MENCEKIK leher anak saya. 

O...oo..., pantas saja ia pucat dan bingung berdiri tak tahu harus berbuat apa. Maka giliran saya akhirnya ikut tergelak menyadari kesalahpahaman ini.

Begitulah dinamika berinteraksi dengan keluarga suami. Ada beberapa kata yang memang bikin saya tertawa karena artinya beda dengan pemahaman awal saya terhadap kata tersebut. Misal kata 'NGOMONG', ternyata maksudnya adalah 'BOHONG'. Ketika suami menyebut warna 'BIRU', ternyata maksudnya 'HIJAU". Maka untuk menghindari kebingungan kami, .. suami sering menyebut warna hijau dengan kata "BIRU DAUN". Sampai saat ini pun suami masih sering ketukar-tukar dalam penyebutan warna Biru dan Hijau. Bukan dikarenakan bingung warna, tapi lebih pada kebiasaan penyebutan di alam bawah sadar dia.

Hmm,.. sedikit berbagi romantika menikah beda suku. Pastinya banyak kisah. Tapi kalau dituangkan semua, bukan 'sedikit' lagi atuh ... :D:D

Salam bagi semua sahabat, selamat beraktifitas ..






JANDA


Apapun penyebabnya, karena kematian,  jatuhnya talaq dari suami atau bahkan adanya khulu' dari istri, maka tetap saja statusnya adalah janda.

Status. Sebegitu berartinya bagi masyarakat, sehingga banyak yang rela bersembunyi di balik tabir kegulitaan demi sebuah status.

Menjadi janda. Siapa yang mau? Aku pun tak hendak. Tapi, demi masa depan Dewi, anakku yang kini tinggal satu-satunya setelah kematian kakaknya beberapa waktu yang lalu, segala upaya kutempuh demi mendapatkan status janda. Kuurus surat kematian suamiku yang sedang berkalang nafsu, yang tak tahu sedang singgah di penjuru sebelah mana, dengan meyakinkan sepenuh keyakinan bahwa dia memang sudah mati.

Ada dan tidak adanya memang tak membawa beda. Kecuali sederet kesengsaraan demi kesengsaraan bagi aku dan anakku.

"Orang lain semua ada bapaknya, ya, Ma. Kalau bapak Dewi di mana?" permataku yang menginjak usia tujuh tahun sering bertanya demikian.
"Bapak Dewi sudah mati." mantap aku menjawabnya.
"Oh, ...," maklumnya tetap menyisakan rasa penasarannya. Biarlah, jika waktunya tiba, pasti dia akan memakluminya.

Surat keterangan kematian sudah aku dapatkan dari pengurus RT dan RW. Tidak susah, karena mereka masih terhitung kerabatku, yang memang sangat mendukung aku mengambil tindakan ini. Mereka sudah di batas permaklumannya pada kelakuan Bapak Dewi, suamiku.

Maka berbekal surat keterangan RT/RW, aku pun mendapat selembar surat keterangan statusku dari kelurahan. Yah, aku berhasil memanipulasi statusku. Dengan berbekal selembar surat kematian suamiku, maka status Dewi adalah anak yatim. Dia berhasil aku masukkan ke sebuah Madrasah tanpa biaya sepeserpun, bahkan Dewi tiap bulan mendapat santunan dari yayasan pemilik madrasah tersebut.Aku juga berhasil mendapatkan sepaket beras raskin dari kelurahan tiap dua bulan sekali, karena aku termasuk janda-janda yang berhak disantuni.

Tentu itu sangat membantuku, karena sebagai seorang buruh di sebuah pabrik konveksi, dengan gaji yang seringnya terpotong di sana sini, memberikan pendidikan yang layak untuk Dewi serasa mimpi. Belum lagi aku harus membiayai orangtuaku yang sudah jompo, yang sehari-hari aku titipi Dewi ketika aku pergi kerja.

Oh, mengapa aku mampu bertindak seperti itu ?

Semua tak lepas dari kelakuan Bapaknya Dewi.

Saat ia meminangku, betapa bangganya aku bersandingkan dengan lelaki gagah dan tampan yang memiliki penghasilan mapan. Keluarga besar pun ikut senang.

Tak lama setelah pernikahan, aku di boyong ke kampung halamannya, di kota Ciamis. Kutinggalkan Bandung dengan segala untaian harap yang membubung. Sampai kelahiran anak pertama, seorang bayi perempuan yang montok dan sehat. Lengkap sudah kebahagiaanku. Hidup di rumah yang sangat layak, berdampingan dengan ibu mertua yang sangat ramah. Kecintaan pada anaknya tertumpah juga padaku sebagai menantu dan anakku sebagai cucunya.

Jamaknya hidup di perkampungan, maka sanak saudara hidup juga berdampingan. Salah seorang sepupunya yang memiliki anak perempuan kelas dua SMP, rumahnya ada di belakang rumah kami. Tiap hari anaknya bermain dengan anakku. Mereka lengket sekali. Aku pun senang-senang saja dengan keakraban 'ponakan' ini dengan anak dan suamiku.

Hingga ketika anakku berusia tiga tahun, aku merasakan perut mual-mual, badan panas dingin. Rupanya sulungku akan mendapatkan adik. Aku sampaikan kabar gembira ini pada suamiku. Anehnya, dia hanya terdiam. Aku tak peka pada keterdiamannya, sehingga ketika suatu sore ia mengungkapkan keinginannya berkunjung ke orangtuaku di Bandung, aku sangat senang sekali.

Dengan semangat, aku kemasi baju alakadarnya. Sekedar untuk baju ganti, sementara yang lebih penting adalah baju-baju sulungku.

Tak lama setelah sampai di Bandung, dia berpamitan.

"Neng, Aa' pulang dulu ya, Neneng puas-puasin saja berkumpul dengan saudara di sini. Nanti Aa' jemput. Ingat, jangan pernah pulang sendiri tanpa dijemput sama Aa'."

Tanpa syak wasangka aku pun mengangguk senang.

Hari berganti pekan, dan pekan pun berganti bulan. Tak ada kemunculan suamiku untuk menjemputku. Uang yang ditinggalkan sekedar untuk uang pegangan, tak sampai sebulan sudah tak berbekas. Sementara kandunganku pun semakin besar.Akhirnya aku melahirkan tanpa suami mengetahui, hanya di dampingi Emakku yang begitu mengerti keadaanku. Bayi perempuan lahir dengan selamat dan sehat, meski selama  aku mengandungnya jiwaku dicekam keprihatinan.

Tahun berganti. Anakku Dewi mulai merangkak, ketika kakaknya tiba-tiba panas tinggi. Aku berlari kian kemari mencari bantuan untuk bisa membawa anakku ke dokter, setelah 3 hari panasnya tidak juga mereda. Dengan kondisi saudara-saudara yang tak kalah kurangnya dengan aku dan emakku, tak banyak yang aku dapatkan. Itu juga butuh waktu seharian. Berbekal uang pinjaman, aku membopong sulungku ke puskesmas. Sepanjang perjalanan, aku melihat bibr birunya menggeletar,  nafasnya juga tersengal.

Mengantri di puskesmas mencoba mendapatkan simpati dari petugas, setidaknya untuk kondisi anakku yang semakin membuat cemas. Rupanya upayaku tak membawa hasil. Karena sebelum nama anakku dipanggil, ia sudah dipanggil oleh Yang Maha Kuasa.

Duniaku gelap.Dan hari-hariku berhias ratap.

Jika bukan karena Dewi, sulit bagiku untuk bertahan. Dengan mencoba menegakkan kakiku kembali, aku pun berusaha sana sini. Menjadi buruh cuci hingga menjual gorengan berkeliling. Apapun itu, aku lakukan untuk keperluan perutku dan bubur Dewi.

Kukabarkan kematian anakku ke kampung suami, meski aku tidak yakin, benarkah kabar itu akan sampai. Hingga dua bulan kemudian, datanglah ibu mertua dengan tangis penyesalannya.

Beliau bercerita, sekembalinya dari mengantarku, suamiku menyampaikan pada keluarga di Ciamis, kalau aku minta cerai dan tidak mau diajak pulang.

Maka dengan berbekal kisahnya, ia meminang 'ponakan' yang sebelumnya akrab dengan keluargaku. Mereka kini sudah memiliki anak. Suamiku juga tak pernah menceritakan perihal kehamilanku yang kedua.

Runtuh sudah langitku. Dan lagi-lagi, Dewi mejadi penyelamatku. Dengan sisa-sisa kekuatan yang aku miliki, aku datangi suamiku. Aku minta baik-baik 'keadilannya', karena toh orang yang bernasib 'diduakan' tidak hanya diriku. Dan mereka juga bisa. Rupanya suamiku tak mau memandangku sebelah mata. Justru istrinya yang begitu lantang menyampaikan keberatan.

Oke, aku pun minta diceraikan. Kurang ajar sekali apa yang ia katakan.

" Kalau mau kawin lagi, ya kawin saja. Saya tidak akan pernah mengurus perceraian. Dan saya tidak akan pernah menceraikan." Enteng sekali dia menjawab.

Darah memuncak di ubun-ubunku. Gelas yang ada di dekatku, aku lemparkan ka arahnya. Dia terperanjat, tak sempat menghindar. Pasti sakit. Tapi, tentu tak akan sesakit hatiku yang sangat merasa dilecehkan. Memangnya aku binatang, yang bebas melakukan perkawinan tanpa aturan?.

Dengan bara yang tetap aku pelihara hingga sekarang, aku membesarkan seorang Dewi sendirian. Ia tumbuh menjadi gadis yang cantik. lincah dan pintar.

Kuurus surat kematian suamiku, demi status jandaku. Karena mengurusnya lebih sedikit mengeluarkan biaya daripada mengurus surat cerai yang harus berbelit prosedurnya ke sana ke mari.

Yah,.. aku janda. Dan ternyata banyak kemudahan yang bisa aku dapatkan, termasuk diterimanya aku bekerja sebagai pegawai rendahan di pabrik konveksi tak jauh dari rumah. Pegawai personalianya iba denganku, karena kebetulan dia juga janda dengan dua anak yang masih kecil-kecil.

Tak selamanya menjadi janda itu menyusahkan.

Suatu Saat di Ruang UGD


(Catatan akhir tahun 2011)

Tergopoh aku mengurus administrasi dari meja ke meja. Mengisi data-data sedetail yang aku bisa. Sementara suami masih belum balik dari tempat parkir.

"Kelas satu penuh, Bu. Tinggal yang VIP." kata petugas pendaftaran.

Waduh, ... harus berunding dengan suami, deh. Karena jatah rawat inap dari kantor suami memang kelas kami di kelas satu, bukan VIP. Maklum, karyawan biasa. Bukan Manager dan sejenisnya. :).

Kulihat anakku sudah terkulai sedemikian rupa. Memerah pipinya karena panas badan makin meninggi. Lemas dan kelhatan tidak bergairah.

Untunglah, tak lama kemudian suami datang.

"Oke, ambil aja VIP, nanti kita booking kelas satu kalau ada yang kosong." Kata suami. Maka, srat sret, suami membubuhkan tanda tangan di beberapa lembar kertas. Yang penting anak kami segera tertangani dan bisa segera masuk ruangan.

Oh, ... rupanya keteganganku belum selesai. Aku harus menyaksikan anakku kesakitan ketika harus dipasang selang infus. Belum lagi karena tegang, selang infusnya susah masuk ke pembuluh darahnya. Terpaksa harus di coba di lain tempat. Makin sakit tentunya. Sedih sekali.

Aku duduk di sebelah anakku, di sebuah tempat tidur besi,  di antara sekian banyak deretan tempat tidur di ruang UGD sebuah rumah sakit. Menunggu diantar ke ruang perawatan.

Detik-detik berlalu, sangat membosankan. Untuk mengusir kejenuhan, aku edarkan pandangan ke segenap penjuru ruang UGD tersebut. Di sebelah kanan kami, seorang perempuan yang aku taksir usianya menjelang 50 tahunan. Beliau masuk lebih dulu dari kami. Ditunggui oleh seorang perempuan juga, yang kemudian aku ketahui ternyata tetangganya. Wajah pasien tersebut pucat pasi. Sesekali meringis menahan sakit. Tak jarang hingga mengerang sembari menangis.

"Sakit apa, Bu," kutuntaskan rasa keingintahuanku.
"Kurang tahu, Bu. Perut saya kembung, mengeras dan sakit sekali." jawabnya lirih.
"Oh, ... lekas sembuh ya, Bu." kata saya formil sekali. Batinku menduga, si ibu ini sakit semacam lever atau sejenisnya.

Pandanganku beralih ke pojok depan. Tampak seorang ibu di dampingi oleh -mungkin- suaminya. Memakai alat bantu pernafasan. Kelihatan susah sekali menarik nafasnya, -aku duga beliau menderita semacam penyakit Asma-, dan kelihatan lemas. Hingga sekedar menegakkan kepalanya saja harus dibantu oleh suaminya. Aku juga melihat suaminya mondar-mandir mungkin harus mengurus ini itu. Pasien ini juga masuk lebih dulu.

Persis sejajar dengan pasien penderita asma tersebut, ada seorang perempuan yang tak henti-hentinya menangis menahan sakit. Suami yang berada di sebelahnya sampai tak tahu harus berbuat apa. Suaminya mondar-mandir ke ruang jaga dokter dan ke tempat istrinya, sepertinya minta pertolongan dokter atas keluhan istrinya. Dan beberapa kali memang dokter datang, memeriksa, menanyakan keluhannya. Yang jelas, sakit perut, kembung dan uluhati nyeri. Mungkinkah maag?Ketika suaminya bertanya sesuatu pada seorang dokter perempuan yang memeriksanya, terdengar jawaban ketus yang dibarengi dengan bentakan yang membuat suami dan pasien tersebut terdiam seketika. Aku dilanda kebingungan dan tercengang.

Jarak dua tempat tidur dari kami, sesudah ibu yang menderita perut mengeras tadi, ada seorang anak perempuan, usia sekitar 10 tahunan. Terdiam dan meringkuk memeluk bonekanya. Kata orangtua yang menungguinya, dia sakit demam berdarah, panas sudah 4 hari.

Di barisan depan, tertutup tirai-tirai warna hijau muda, terdengar keluhan dan rintihan para pasien, sungguh menyayat hati. Sementara keluarga pasien terlihat hilir mudik dengan wajah-wajah tegang, atau bahkan penuh kegusaran. Rupanya mereka sudah lama terkapar di ruang UGD tersebut tanpa penanganan yang berarti. Ada yang sudah 5 jam menunggu, tapi belum juga masuk ke ruang rawat inap.

Aku pun mulai dihinggapi kegusaran. sudah hampir dua jam menunggu tak juga diantar ke ruangan. Suami juga mulai kehilangan kesabaran. Bolak-balik menanyakan kapan dipindahkan. Tapi jawabab dari para petugas sungguh bikin makin kesal.
"Ruangan belum disiapkan, Pak. Sabar saja. Banyak yang datang lebih dulu dari Bapak, hingga sekarang juga belum pindah." jawab mereka.

Suami pun balik dengan menahan kemarahan. Seberapa lamakah sebenarnya persiapan ruangan itu ? Hingga memakan waktu berjam-jam?

Di tengah kegusaran tersebut, tiba-tiba datang ambulans dengan sirine yang meraung-raung. Serentak terjadilah kesibukan luar biasa karena menangani pasien yang baru datang. Suara tempat tidur yang didorong terdengar riuh ditingkahi langkah-langkah sibuk dari paramedisnya. Juga instruksi ini itu dengan bahasa medis yang kurang aku mengerti. Sementara tangisan pengantar pasien terdengar mengharu biru. Jantungku berdegup kencang. Perhatianku tersita oleh kejadian tersebut. Ada perasaan was-was luar biasa.

Aku lihat pasien didorong ke ruang operasi. Paramedis terlihat berjubel di ruangan tersebut, sementara pengantar pasien bergerombol di lorong depan ruang operasi. Tangisnya masih terdengar. Kulihat di lantai darah berceceran, belum sempat dibersihkan. Mual tiba-tiba menyerang perutku.

Tak lama jeritan menyayat hati terdengar dari keluarga pasien. Ada yang pingsan, ada yang sesenggukan sembari berangkulan. Tak lama, pasien didorong keluar ruangan, menuju belakang. Sepertinya pasien tidak tertolong.

Aku makin tidak nyaman perasaan. Bergegas aku ke ruang petugas UGD. Sekedar menanyakan kepastian penanganan anak kami. Sekilas aku melirik ke ruang operasi yang pintunya masih masih terbuka lebar. Kepalaku pening seketika, ketika aku melihat di lantai darah tergenang banyak sekali. Belum lagi tapak sepatu yang menginjaknya meninggalkan cetakan tapak merah-merah di lantai rumah sakit yang putih.

Rupanya keluhanku tak mendapatkan tanggapan yang aku harapkan. Jawaban dari petugas UGD standart sekali. Sabar dan sabar, ... ruangan belum disiapkan. Aku melihat map berisikan berkas anakku. Tertulis VIP D2. Aku kembali ke tempat tidur anakku.

"Mas, coba cek ruang VIP D2. Benarkah belum disiapkan. Kalaupun ternyata belum, mintalah pada petugas ruangan untuk segera disiapka, Kita sudah menunggu dua jam lebih. Aku sudah tidak kuat lama-lama di sini. Bisa-bisa aku jadi pasien pula lihat kondisi di UGD macam begini." pintaku pada suamiku.

Bergegas suamiku mencari ruangan yang aku maksud.

Tak lama suami muncul dengan wajah merah padam. Terlihat sekali suamiku menahan amarahnya. Dia langsung menuju petugas jaga.

"Siapa bilang ruangan belum siap? Bahkan sejak dua jam yang lalu ruangan menunggu pasien diantar. Mana kursi rodanya, saya antar sendiri anak saya." terdengar suara keras suamiku.
"Oh, iya, Pak. Tunggu sebentar, saya siapkan kursi rodanya. Kami antar segera ke ruangan." Tergopoh-gopoh suara seorang perawat laki-laki menjawabnya.
"VIP D2 bisa berangkat." terdengar instruksi yang telat dari balik meja administrasi.

Dongkolku yang sangat membuat perutku makin mual. Tapi, setidaknya, setelah mengetahui bahwa akhirnya kami akan terlepas dari suasana UGD tersebut, aku pun bersemangat berjalan cepat mendampingi laju kursi roda yang mengantar anakku ke ruang rawat inapnya.

Ampun deh. Rumah sakit pemerintah. Bahkan pasien berkelas VIP pun diperlakukan demikian. Apatah lagi pasien yang berbekal kartu Jampersal, Jamkesmas, atau jamkes-jamkes yang lain? Tanpa bermaksud menyamaratakan petugas-petugas medisnya, tapi keluhan kerap terlontar, bahwa sikap mereka pun kebanyakan kurang ramah.

Ah, ... mending memang jangan sakitlah. Sehat itu memang mahal.

Sabtu, 31 Desember 2011

Belum berjudul


Pekat masih memeluk rapat.  Kokok ayam jantan sesekali terdengar, lamat.
Bersijingkat, Winda menapaki ruang tengah yang jika malam berubah menjadi tempat tidur bagi kedua anak gadisnya.
“A’, … bangun. Antar kue ke pasar sana, gih …” sebelah tangannya mengguncang bahu suaminya yang tengah terlelap. Sementara tangan kirinya menopang gendongan si bungsu yang sama terlelapnya dalam ayunan gerak tubuh  Winda.
Menggeliat sang suami, - Rustam- dan segera terbangun. Tanpa menunggu Rustam tersadar sepenuhnya, Winda telah kembali ke dapur sempitnya untuk menata aneka kue yang telah siap dipasarkan, hasil olahan tangannya sedari jam sebelas malam tadi.
Nagasari, bala-bala, tahu isi, putri no’ong, lumpia, juga onde-onde. Tiap wadah berisikan masing-masing sepuluh biji. Tangannya terampil memilah dan menata, sambil sesekali mengencangkan ikatan gendongan bayinya.
Winda menoleh ketika terdengar gemericik air di kamar mandi terdengar, memastikan suaminya sudah mengambil air wudhu. Tanpa banyak kata, Rustam mendirikan sholat malam. Memanjatkan doa dan bergegas mengeluarkan motor bututnya. Winda membantu mengangkat kotak-kotak kuenya. Ada yang ditaruh di depan, ada yang diikat di belakang.
“Bismillah,… Aa’ berangkat ya, Neng. Doakan laris ya, “ pamit Rustam sembari mengulurkan tangannya yang dicium ta’dzim oleh Winda.
“Amiin,.. hati-hati ya, A’,” balas Winda kemudian menutup rapat kembali pintu rumahnya.
Tak lama kemudian suara motor yang memecah kesunyian malam itupun perlahan menghilang. Dini hari begini pasar-pasar tradisional sudah mulai ramai.

Sabtu, 12 November 2011

PENGHUNI TETAP BILIK BATHINKU




Dengan gelisah kakiku berkecipak di air yang mengalir deras di bawah batu tempatku menunggu. Jernih airnya, berhias rumput-rumput liar yang aku tahu, di baliknya banyak ikan-ikan sejenis wader, lele atau sekedar impun bersembunyi. Jika bukan kerena aku sudah memiliki agenda lain, pasti sudah aku obok-obok tempat itu. Tapi, berhubung ada yang lebih penting lagi, aku pun mengacuhkannya.

Terasa pegal leherku melongok-longok, memastikan kedatangannya. Aku pun bosan membuang waktuku dengan memotong-motong onthel  kering–bunga pohon keluwih- dan menghanyutkannya pada sungai kecil yang airnya mengalir di bawahku. Rasanya sepulang sekolah tadi, aku tidak salah mendengar, bahwa kami akan bertemu di tempat ini. Di bawah pohon keluwih di samping pancuran yang airnya tak pernah mengering meski kemarau panjang mendera desaku. 

Bosan menunggu, maka aku pun turun ke pematang sawah. Menyusurinya kemudian naik ke tebing yang tidak begitu tinggi. Aku berniat mengambil daun  talas terlebih dahulu, sehingga waktuku tidak terbuang percuma. Dengan tangan kosong, aku memetik  5 daun talas yang lebar-lebar itu. Aku rasa cukup untuk menaruh hasil pekerjaan kami nanti.

Ketika dengan riangnya aku turuni tebing, aku melihat seseorang sudah menungguku di tempat aku duduk tadi. Hmm, … sudah datang rupanya dia, batinku. Bergegas aku menyusuri pematang.
“Ke mana saja sih,..” gerutuku menyapanya.
“Biasa, menunggu simbok tidur dulu,” santai sekali dia menjawab.

Kalau jawabannya sudah seperti itu, aku tak akan bisa membantahnya. Setahuku, tak ada yang sanggup melawan tatapan sadis simboknya, meski tak pernah ada kata-kata sempat aku dengar dari mulutnya. Yang aku tahu, cukup dengan tatapan matanya, semua orang akan terbirit-birit karenanya.

Maka, kami pun tak membuang waktu lagi. Segera kami beriringan menyusuri pematangsawah yang baru saja di panen. Panas terik bukanlah penghalang. Yang jelas, kami harus segera sampai ke pesawahan di sebelah tempuran –tempat bertemunya dua aliran sungai menjadi satu-. Jika tidak segera, bisa-bisa kami tidak kebagian wilayah. Kami khawatir, anak-anak dari sebelah Barat Sungai akan menguasai semuanya.

Di area pesawahan yang belum digarap itu, tanpa ragu, dengan hanya mengenakan kaos singlet dan celana pendek aku terjun. Mataku jeli melihat titik-titik bekas gelembung udara pada tanah basah pesawahan tersebut. Tanganku dengan cekatan akan mengaisnya. Dan sangat sedikit kemungkinan tebakanku meleset. Seringkali tanganku akan memperoleh hasil yang menggembirakan. Seekor belut, besar atau kecil, menggeliat-geliat dan akhirnya terdiam setelah aku banting-banting ke pematang. Tak begitu lama, daun talas yang aku bawa tadi, sudah penuh dengan hasil perburuanku dengan karibku, Supriatno.  Dia juga seorang pemburu belut yang ulung. Tak sekedar mencarinya di permukaan sawah, bahkan lubang-lubang di pematangpun dia korek dan hasilnya memang tak mengecewakan.

“Yu, pulang, yuk..” sambil menyeka lumpur di keningnya dia mengajakku pulang. Matanya memandang ke arah matahari, memastikan bahwa dia tidak akan terlambat pulang.
Karena kasihan, aku pun mengiyakan. Sebenarnya aku masih menikmati acara perburuan itu, tapi aku menyadari bahwa Supri –demikian aku memanggilnya- bisa jadi bulan-bulanan Simboknya kalau  sampai terlambat pulang. Sementara aku sendiri belum mengisi  gentong  persediaan air minum di rumah. Sepertinya memang harus berakhir perburuan belutku kali ini. Lagi pula, hasilnya sudah cukup memadai. 

Dengan sigap kami keluar dari arena yang penuh lumur tersebut utuk kemudian menceburkan diri di sungai.
“Yu, … tolong bawakan bajuku ya, aku mau ke kedung sebelah barat, “ Supri berteriak sambil berlari ke arah Barat. 

Walau dengan menggerutu aku ambil baju kumal kami dari batang pohon mahoni yang tidak begitu tinggi. Aku pun menyusulnya, tapi berhubung aku tidak berani mandi di kedung yang terlalu dalam, aku memilih untuk mandi di cekungan terdekat yang kedalamannya tidak begitu membahayakan. Segar sekali mandi di sungai. Airnya bersih, arusnya pun tidak begitu kencang, mengingat musim kemarau begini, debit air sungai juga menyusut.

Meskipun demikian, kami tidak bisa berlama-lama bermain di sungai. Segera kami pulang dengan keriangan. Lompatan-lompatan kaki kecil kami menyusuri  pematang. Aku tahu, kami harus segera sampai rumah, jika tidak mau menerima tatapan mata  dari simboknya Supri.  Sepertinya aku lebih rela menerima cubitannya daripada ditatap sedemikian rupa. 

Supri, seorang anak lelaki yang baik hati. Anak juragan mobil angkutan desa. Ada tiga mobil yang dimiliki orangtuanya. Bagi ukuran kampungku, itu sudah luar biasa. Selain itu, sawahnya banyak terbentang dari ujung ke ujung, bersebelahan dengan sawah orangtuaku.  Keluarga yang kaya raya, setidaknya begitulah menurutku. Aku selalu takjub jika masuk rumah Supri. Lantainya yang disemen mengkilap, gorden-gorden anggun menari tersapu angin menutup jendela-jendela rumahnya yang banyak. Belum lagi, televisi hitam putih 14 inc menghiasi atas buffet yang cantik, yang berisikan gelas, piring dan cangkir yang indah sekali. Ketika aku ikut nonton acara TV bersama tetangga-tetangga yang lain, aku tak henti mengagumi setiap sudut rumah Supri. Menyenangkan sekali. Satu-satunya yang menjadikan aku enggan berlama-lama di sana adalah tatapan mata Simbok Supri yang mengerikan. Itu saja.

Pertemanan kami terjadi karena kami bertetangga dekat. Kata orangtua, kami laksana mimi lan mintuno. Kemana-mana selalu bersama. Main layang-layang, mencari ikan di sungai, berburu belut, mencari daun sembukan dan lamtoro  untuk dibotok, mencuri mangga punya kakeknya dan lain sebagainya, selalu kami lakukan bersama. 

Kami hanya berpisah ketika kami sekolah saja. Dia bermain bersama dengan anak laki-laki, sementara aku bermain betengan, petak umpet, lompat tali dengan teman-teman perempuan. Tapi, begitu sekolah bubar, kami berjalan bersama-sama lagi pulang. 

Begitulah masa kecil kami lewati hingga kami lulus SD. 

Memasuki SMP, kami terpisah kelas. Mungkin karena pergaulan yang semakin luas, maka kami pun mulai terpisah kebersamaannya. Jika belajar, masih sering kami bertemu. Di rumahku atau di teras rumahnya. Tapi seiring pertumbuhan kami, baik fisik maupun psikis, dengan teratur jarak pun terbentang.  Tapi, tak ada sesuatu yang terganjal  antara kami, segalanya berjalan apa adanya. Proses alami kami lalui, aku mendapatkan tamu bulanan, dia pun dikhitan. Tentu segalanya sudah berbeda.

Suratan mengantarku melangkahkan kaki lebih jauh lagi. Menempuh perjalanan, mengejar keinginan, menemukan berjuta pengalaman. Silih berganti sosok teman mengiringi, datang dan pergi. Hatiku terpenuhi bilik-bilik tempat bersemayamnya semua sosok yang terkirim dalam hidupku. Warna-warninya menjadikanku merasa tiap-tiap sosok adalah penting. Warna-warni itu menetap, jadi meski ada keinginan untuk menghapusnya, pahatan itu sudah terukir jelas, menjadikan ruang hatiku tak bisa digeser dan dipola kembali.

Berbilang tahun, usia pun bergulir…
Tak akan terulang manisnya kecipak air sungai, karena sungai sudah semakin dangkal.Airnya keruh.  Sawah-sawah yang terbentang sudah berdiri rumah-rumah. Kehijauan gunung yang melingkupi desaku telah meranggas tertebang oleh perluasan tanah ladang. Jika masih ada yang bisa dikenang adalah sisa-sisa batu besar yang dulu pernah dijadikan tempat alas sholat bagi petani-petani di sawah. Itu pun tidak banyak. Karena sebagian besar sudah menjadi mangsa tukang batu,  terpecah-pecah menjadi pondasi rumah-rumah mewah di atas keringnya tanah sawah, yang aku ingat, dulu selalu basah. 

Pohon keluwih pun sudah ditebang, berganti dengan pohon mangga yang buahnya tidak begitu lebat. Untunglah, setidaknya masih ada tempat untuk berteduh. 

Semilir angin kerontang, menjadikanku tak jenak menunggu. Yah… ditempat yang sama, berpuluh tahun yang lalu aku juga menunggu.

Tadi pagi, ketika aku berkesempatan pergi ke pasar tradisional –tempat berjuta kenanganku terukir-, aku menjumpainya di tempat pemarutan kelapa yang ramai sekali. Ternyata dia pemiliknya.
“Hai…, sombongnya yang sudah jadi boss,” masih dengan gayaku aku pukul –sengaja aku keraskan- punggungnya. Dia yang sedang sibuk memilah uang berdasar besarannya, tentu terkejut.
“Walah Yu, … jantungen aku,” dia tidak pura-pura, memang ada keterkejutan di sana.
“Sini, sini… duduk. Mau wedang, Yu?” Hmm.., hangat hatiku mendengar panggilannya kepadaku tetap tak berubah. Yu, … dari kata Mbakyu. Karena dari silsilah keluarga yang sudah jauh dari kami pahami, aku jatuh lebih tua dari dia. Walaupun kenyataannya, dia lahir 3 bulan lebih awal dari aku.
“Sudahlah, … aku nonton aja,” aku mengelak, karena aku lihat dia begitu repotnya. Sementara aku pun harus segera membawa pulang hasil belanjaanku.
“Kapan balik?” tanyanya. Aku tahu, kalau seperti itu, pasti dia ada sesuatu yang ingin di sampaikan.
“Harus segera, sih… aku harus mampir-mampir. Ya sudah, sore ba’da Ashar ya, di pancuran,” aku membuat janji. Dia langsung mengiyakan.

Maka, di sini…
Meski tanpa kecipak air lagi, aku berharap suasananya akan mendorong  terungkapnya semua tanyaku setiap  pulang ke rumah Bapak Ibu.
Seorang Supri, yang sudah menjadi bagian hidup di masa kecilku. Sosok yang tegap, dengan otot tertonjol di sana sini menandakan dia adalah pekerja keras. Setiap kepulanganku, selalu ada hal baru yang dia lakukan. Dari menjadi juragan ayam potong, juragan bakso, pemasok berbagai jenis sosis, beternak bebek, dan terakhir dia menjadi boss pemarutan kelapa. 

Ayahnya sudah meninggal, kakak-kakaknya juga sudah menikah. Tinggallah dia seorang merawat sang Simbok yang tergolek lemah karena serangan stroke yang dideritanya. Seorang simbok, yang tak ada kenangan manisku bersamanya kecuali hanya tatapan mengerikan yang tertanam kuat dalam ingatanku. Namun, kini dalam kerentaannya, aku melihat tatapannya yang nelangsa. Setiap aku menjenguknya, keluhnya selalu sama.

“Supri belum menikah, Nduukk… ndak tahu, kok ndak mau melulu. Coba to Nduk, kamu tanya. Maunya itu apa? Lha wong sudah semakin tua …” panjang lebar keluhnya tentang si bungsu teman masa kecilku.
Dan tentu di setiap kepulanganku, tanya itu aku sampaikan. Tetap tak berjawab, hanya barisan giginya yang rapi terpamerkan lewat tawa lebarnya. Begitu juga ketika aku pamer  padanya keempat anak-anakku yang sudah beranjak dewasa. Bukanlah jawab yang aku dapat, justru keempat anak-anakku semakin tebal dompetnya karena ‘cecepan’ si Om yang baik hati. 

Hmm…, Supri.
“Sudah lama ya, Yu…” tiba-tiba dia sudah ada di belakangku. Spontan aku menoleh. Dia mengambil tempat di sebelahku, disodorkannya bungkusan yang setelah aku buka ternyata isinya gandhos (ketan bercampur kelapa, digoreng). Masih hangat. 

Aku comot sebuah. Nikmat. Masih kenikmatan yang sama.
“Gandhosnya mbah Sinem, ya…” tebakku.
“Iya. Hebat ya…, awet muda tuh mbak Sinem. Dari kita kecil jualan gandhos sampai sekarang, tak banyak berubah. Tetap gesit dan cantik.” Jawabnya. Aku hanya manggut-manggut mengiyakan. Hal yang sama ingin aku ungkapkan, tentang sosk mbah Sinem yang kecantikan dan kegesitannya tak banyak berubah.
 “Iya, mbah Sinem sih awet muda. Lha wong anak-anaknya sudah mentas semua. Tapi kita tidak akan awet kecil lho, karena kita akan semakin tua tua.” Aku berharap dia segera tanggap. Dan benarlah, maka tanpa membuang waktu, mengalirlah apa yang selama ini menjadi tanyaku.

“Aku wandu, Yu…” lirih ucapnya, tapi laksana petir di siang bolong bagiku. Mungkin pucat pasi wajahku, karena aku bisa merasakan piasnya seketika. 

“Kaget, kan?” Sambil tersenyum dia mencoba memaklumiku. Tapi, terlihat sekali dia menahan keperingan dari setiap bahasa wajahnya, mata, senyum, bahkan gerak geriknya.

Ada yang perih mengalir di hatiku juga.
“Tidak ada yang tahu lho, Yu. Cuma kamu yang aku kasih tahu. Tidak ada yang mengerti, di balik kokohnya tubuhku, aku bukan laki-laki. Aku mencoba menepisnya sejak dulu, tapi tidak pernah berhasil. Aku memang tidak gemulai, makanya tidak ada yang mengira demikian. Tapi aku tahu jiwaku. Jiwaku bukan laki-laki.” Dengan lancar akhirnya dia sanggup berkata-kata.
Justru kini aku yang terdiam. Aku pandangi sosok di sampingku. Tegap, gagah. Tak ada gerak-gerik yang gemulai. Pekerjaannya selama ini juga berkisar di area ‘per-otot-an’. Kerja lapangan, istilah dia. Benar-benar mengandalkan kemampuan fisik. 

Aku mencoba menggali kenangan masa kecilku, hingga kami baligh. Rasanya tidak ada yang aneh. Semua khas pergaulan anak kecil di kampungku. Semua menyenangkan.
“Aku tidak bisa menikah, Yu. Hatiku tidak pernah bisa mencintai perempuan. Aku tidak pernah tertarik, secantik apapun dia.  Kalau aku memaksakan diri, aku khawatir malah tidak bagus.” Urainya lagi. Aku masih terdiam. Menunggunya menuntaskan uneg-unegnya.

Hal yang mungkin terjadi, dengan sosok, wajah dan harta yang dia miliki sekarang, aku yakin, gampang baginya kalau hanya sekedar mencari istri. Dan kabarnya memang sudah beberapa orang yang menawarkan diri padanya.

“Biarlah, hidupku mungkin digariskan demikian. Aku mencoba menerimanya dengan ikhlash kok. Aku tidak macam-macam. Aku juga tidak melacur. Yang penting hidup kan sadermo ngelakoni. Aku pikir ya…, inilah ujianku. Dengan diuji seperti ini, aku lulus apa tidak.”

Aku kian tercekat.
“Sudahlah, Yu… tidak usah digagas. Simbok juga sudah bolak-balik nanya. Tapi, apa ya bisa ngerti kalau aku jelaskan. Tentunya malah bikin dia bingung. Malah sedih.”
Kini aku tergugu. Susah sekali menahan isakku.

“Tidak usah sedih. Aku janji. Aku bakalan lulus kok. Ujian dari Yang Maha Kuasa buat aku memang harus begini. Minta do’anya saja. Semoga aku dikuatkan. Biar aku bisa berbuat kebaikan dalam sisa umurku. Tidak apa-apa kalau aku harus tidak punya keturunan, toh ponakanku juga sudah banyak, kan?” dia malah berusaha mencandaiku. 
Justru itu semakin membuatku pilu.
“Sudah, ah… Aku tidak mau bikin sedihmu, Yu. Percayalah, aku bisa lulus.” Dia mengulangi dan menegaskan janjinya.

Kerontang angin makin membuat hatiku perih. Akan kusimpan rapi segenap pengakuannya.
Aku paham, bagi lingkungan kami apa yang dialaminya bisa jadi aib. Tapi ternyata Supri menganggapnya sekedar ujian hidup. Tiap-tiap manusia diuji sesuai dengan kadar kemampuannya. Dan dia begitu yakin, dia mampu melampauinya. 

Duh… Gusti. Semoga keyakinannya sanggup memberinya kebahagiaan.
Perlahan aku pergi, meninggalkannya dengan bungkusan gandhosnya yang belum habis. Surya semakin memancarkan kemerahan di garis cakrawala. Masih tetap, tenggelamnya di sela gunung Bayang Kaki. Tak berubah, dalam bilangan umurku yang sudah tidak muda lagi. Kesetiaan gunung Bayang Kaki terhadap Matahari yang pasti akan kembali ke pangkuannya, menjadikanku tersadar.
Aku sadar. Apa dan bagaimana Supri, bilik hatiku tak akan sanggup tergeser oleh sosok yang lain. Dia telah menempatinya sekian lama, menetap di sana. Justru dengan pengakuannya. Menjadikanku semakin mengerti. Dia memberiku banyak arti. Demikian juga dia telah menjadikanku mengerti, arti seorang Supri dalam kehidupan ini.

 “Ayo, pulang. Anak-anakmu pasti mencarimu.” Tiba-tiba dia sudah ada di belakangku, melihatku termangu menatapi cakrawala. Sepertinya dia paham, bahwa pikiranku terpagut pada dirinya.
“Anggap saja aku seperti matahari itu. Menggelincir menjalani laku hidupnya. Mungkin dia berkeinginan tetap memancarkan sinarnya, tapi apadaya laku hidupnya harus tidur jika menjelang malam. Semua sekedar menjalani ketentuan-Nya. Kita juga, kan?”

Aku mengangguk.  Tak banyak kata sanggup aku ungkapkan, namun aku yakin, Supri mengerti. Tak pernah tergeser keberadaannya di dalam hatiku. 

Beriringan kami lompati pematang-pematang, meski tak selincah diwaktu kecil, namun kaki-kaki kami tak pernah salah langkah. Hafal, kemana harus menuju.

Sahabat, … jemputlah bahagiamu dengan sepenuh keyakinanmu. Aku hanya sanggup mendoakanmu, dalam untaian panjang dzikir-dzikirku.

Malam kian menebar kelam…


Jumat, 11 November 2011

MENYOAL WARISAN





Sahabat yang berbahagia,…
Menyoal warisan pastilah ada suka dan tidak sukanya. Karena istilah ‘warisan’ identik dengan adanya orang yang meninggal. Pada satu sisi ada nuansa sedih, namun pada sisi yang lain, ada nuansa kegembiraan dengan adanya warisan yang dibagi-bagikan kepada ahli waris.

Tulisan saya pada kali ini saya batasi hanya berkaitan dengan warisan harta benda yang ditinggalkan oleh almarhum kepada ahli warisnya. Meskipun kenyataannya, warisan itu tidak hanya semata-mata harta benda saja, melainkan juga hutang piutang. Namun, untuk mempersempit  pembahasan, karena ini berkaitan dengan contoh kasus yang ingin saya sampaikan, maka saya hanya focus pada masalah peninggalan harta benda.

Saya sering mendengar petuah dari para ulama : Dosa yang pembalasannya tidak akan tertunda hingga hari akhir adalah durhaka kepada orangtua dan serakah pada harta warisan. (mengambil yang bukan haknya).
Artinya, dosa kedua hal tersebut diatas, balasannya akan diberikan bahkan sebelum manusia meninggal dunia. Adzab-Nya di tampakkan bahkan selagi masih hidup. 

Ketika saya masih muda (sekaligus sebuah pengakuan, bahwa saya sudah tua.. :D ), kedua hal tersebut tidak pernah terpikir oleh saya, terutama urusan warisan. Namun, dengan berjalannya waktu, saya menjumpai banyak kasus yang menimpa saudara –dekat maupun jauh- yang punya kasus rebutan warisan dari kedua orangtuanya. Dan memang betul, ternyata petuah yang saya dengar ditampakkan sedemikian rupa. Saya berhuznudhon, semua yang terjadi pasti dimaksudkan agar kita semua mampu mengambil pelajaran atas segala sesuatunya. 

Sedikit berbagi dari banyak pelajaran yang bisa saya petik di sekitar kehidupan saya :
Syahdan, saya memiliki kerabat jauh dari Jawa Timur, seorang laki-laki yang sekarang berusia kurang dari 60 tahun, sebut saja Om Tamak.  Dia adalah anak ke 3 dari 4 saudara. Tingkahnya menyebalkan sekali. Yang menjadikannya bisa ciut nyali hanyalah sang Bapak. Maka, ketika bapaknya meninggal dengan warisan yang terhitung banyak, dia menjadi orang yang paling bahagia. 

Pada posisi dia banyak harta, kerjanya hanya berfoya-foya saja. Sombongnya bukan alang kepalang. Bahkan berpapasan dengan saudara tuanya pun tak sudi menyapa. Kepala mendongak dengan congkak. (idiihhh,… kok ya ga kesandung-sandung, gitu lho ..). 

Ada seorang kerabat bercerita, ketika dia sedang ke Jakarta untuk mencari kerja, dia menginap di saudaranya. Ternyata di ruang tamu sudah ada Om Tamak yang sedang membaca Koran. Rupanya Om Tamak sedang berkunjung juga. Berbinarlah wajahnya, mengingat Om Tamak adalah saudaranya, sekaligus tetangga dekatnya di kampung. Hasrat hati ingin menyapa, tapi rupanya si Om Tamak pura-pura tak mengenalnya. Kenangan ini disimpannya rapi dalam ingatan, dan tak bisa lupa meski sekarang kerabat ini sudah bisa hidup mapan. 

Kebiasaannya berfoya-foya menjadikannya kehabisan uang. Otak liciknya pun melirik harta warisan kepunyaan saudara-saudaranya. Dengan alasan pinjam sertifikat untuk suatu urusan, terjuallah semua warisan saudara-saudaranya. Licin Om Tamak berkelit, sehingga saudara-saudaranya terpaksa gigit jari. Kutukan dari yang terang-terangan hingga yang diam-diam pastilah teralamatkan pada si Om ini. Tapi, hatinya benar-benar membatu.

Dengan bermodal harta warisan saudara-saudaranya, menikahlah dia dengan perempuan lain desa, anak tunggal dari saudagar kaya di lingkungannya. Dengannya dikaruniakan seorang putri tunggal pula. Lengkaplah modal bagi kecongkakan Om Tamak. Saudara-saudaranya semakin membencinya, sama sekali tak hendak mengenalnya. Pun Om Tamak pilih-pilih untuk diakunya saudara. Hanya yang terbilang kaya, sama atau di atasnyalah yang bisa mendapatkan sapanya, atau bahkan sesekali dikunjunginya. 

Oya, dalam sejarah perjalanan hidupnya, dia tidak pernah bisa sukses dalam berusaha. Usahanya selalu bangkrut karena dia selalu terjebak dalam kelicikannya sendiri, lihai dalam hal tipu menipu. Sepertinya akalnya sudah semakin dikuasai oleh nafsu serakahnya. Orang bilang, kutukan warisan telah menjadikannya hamba syetan. Otaknya bebal, tak mampu menangkap peluang. Habislah semua modal yang dia dapatkan dari mendlolimi saudara-saudaranya.

Kegilaannya tidak sampai di situ. Diam-diam, rumah mertua diagunkannya ke bank. Rupanya si Om tak bisa membayar cicilan. Maka datanglah juru sita ke rumah. Mertua dan istri histeris, namun karena mertua kaya raya, ditebusnya semua utang menantunya. Meski begitu, tak terkira tumpahan sumpah serapah diguyurkan ke Om Tamak. 

Dalam kondisi seperti itu, mata si Om rupanya tak bisa melihat barang agak kinclong sedikit. Bermodal penampilan, digaetlah gadis lencir asal Sidoarjo, yang usianya masih di bawah anak tunggalnya.
Maka, pecahlah bahtera rumahtangganya yang pertama. Terusirlah si Om Tamak dari istana istri dan mertuanya, dengan hanya berbekal baju yang melekat di badan. 

Tak terkata kisah terluntanya si Om menjadi peminta-minta di kalangan keluarga dan kerabat. Ibarat bermuka badak, kini hidupnya sangat tergantung pada belas kasihan saudara-saudaranya.
Setiap bulan, dia berkeliling ke saudara dekat atau jauh, juga ke anak tunggalnya dengan istri pertama, menadahkan tangan meminta jatah bulanan. Tak dihiraukannyanya cacian dan hinaan, yang penting si Om dapatkan uang untuk dibawa pulang.

Kini si Om sudah mendekati usia 60 tahun. Anaknya dengan istri ke dua masih kecil-kecil. Yang pertama baru kelas lima SD, yang ke dua kelas satu. Istrinya manja luar biasa, tak mampu mencari peluang untuk menambah penghasilan keluarga. Tertipu dia, dikiranya suaminya kaya raya, ternyata semua harta milik istri pertama dan mertua.

Si Om mengontrak sebuah rumah kecil di gang sempit di daerah Pasuruan sana. Dan sekalinya Alloh berikan kesempatan padanya untuk diterima kerja di usianya yang sekarang, ternyata dia kebagian mengolah tinja dan kotoran ternak untuk dijadikannya pupuk kandang. Setiap senja si Om pulang dengan aroma mengerikan sekujur badan. Gaji sebulan dia terima 500 ribu rupiah, toh memang tak ada yang mampu dia lakukan.  

Hmm,…
Om Tamak sudah kena batunya. Yang biasanya congkak menengadah, kini terkulai pasrah. Herannya, otaknya sama sekali tidak nyambung. Seakan dibutakan, dibuntukan. Tak ada greget dalam menjalani hidup. Gelap. Apalagi di usianya yang sudah tak lagi muda, semakin kelihatan bebalnya.
Ketika sesekali dingatkan tentang warisan, dia hanya tertawa. Setidaknya saya berpikir, mumpung masih ada kesempatan, cobalah ketika mendatangi saudaranya itu membuat pengakuan, meminta maaf dan bertobat dengan segera. Bukan hanya sekedar meminta jatah bulanan.
Tapi, hal inipun tak pernah dia lakukan. Benar-benar hati dan otaknya dibutakan. Hingga tetap gelap dan menyedihkan.

Duh, … Om Tamak.
Ini bukan kisah dari negeri dongeng. Ini kisah nyata yang kebetulan saya menyaksikannya sendiri. Demikian juga kisah-kisah yang mungkin sahabat semua juga menyaksikannya di sekeliling kita. Akhir keserakahan pada warisan, selain menjadikannya terputus hubungan persaudaraan, juga akan mendapat pembalasan dari yang Maha Mengetahui segala perbuatan. Semua itu menjadikan saya semakin ingin menjauh dari segala sengketa urusan warisan. Semoga Alloh berkenan menunjuki kita semua pada jalan-Nya yang lurus. Amiin.